Perkembangan pembelajaran yang dari waktu ke waktu
semakin pesat tentu saja memerlukan berbagai terobosan baru seperti pendekatan
dan inovasi pembelajaran yang mampu menjadi media pengetahuan bagi peserta
didik yang diluncurkan baik secara regional maupun global. Ayi OLim mengatakan
dalam tulisannya yang berjudul “The China Paper, 2004” (dalam http//:
ayiolim.wordpress.com) mengenai penetapan inovasi pembelajaran harus
disesuaikan dengan pertimbangan dan pendekatan dalam pembelajaran seperti
kekuatan intelektual dan imajinatif, pemahaman dan pembuatan, keterampilan
komunikasi, keterampilan kerja sama, keterampilan pemecahan masalah, perluasan
perspektif pada disiplin keahlian, dan pendekatan inkuiri dan kreatif.
Beberapa pertimbangan tersebut memberikan gambaran
bahwa tuntutan dunia informasi dan perubahan zaman perlu diiringi dengan
kemampuan intelektualitas yang tinggi dengan disertai inisiatif dan kreativitas
yang tinggi. Selain itu, Kong Fu Tsu (The China Paper, 2004) dalam http//:
ayiolim.wordpress.com menyatakan sebuah peribahasa yakni bukan berikan ikan
tapi berikan pancing. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa adanya inovasi
pendidikan ditandai dengan hal-hal berikut:
“Memetakan
konsep, perubahan konsep, pemecahan masalah, pembelajaran berbasis masalah,
studi kasus, pemecahan isu-isu sosial, lokakarya, mengajar bantuan teknis,
pembelajaran berbasis perpustakaan, pembelajaran berbasis web, dan pemodelan
menggunakan komputer”.
Inovasi pembelajaran masih sulit untuk
direalisasikan karena ketidaksiapan peserta didik dalam menerima inovasi
tersebut.hal yang selaluditemui dilapangan Pertama kesulitan untuk merubah pola
pikir peserta didik mengenai kebiasaan yang dilakukan keseharian terutama dari
pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran yang keatif dan inovatif. Kedua,
resistensi dari kelompok peserta didik yang belajar telah terbiasa melakukan
pembelajaran secara konvensional sehingga apabila diajarkan pembelajaran yang
lebih canggih mereka beranggapan akan memberatkan. Ketiga, daya dukung
lingkungan yang kurang kondusif untuk melakukan pembelajaran yang inovatif.
Keempat, bagi peserta didik belajar dibutuhkan loncatan berpikir karena yang
ada di benak mereka yang dimaksud dengan belajar adalah belajar menghapal dan
bukan mengaplikasikan konsep dalam kenyataanitu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang dapat menigkatkan pemahaman
peserta didik. Salah satunya yaitu dengan adanya pembelajaran E-Learning. E-learning
merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam
proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet
sebagai sistem pembelajarannya. Karena dengan adanya internet kita dapat
mengetahui segala hal yang belum dipelajari.
Pembelajaran
jarak jauh ada beberapa bentuk, antara lain:
- Program pendidikan mandiri.
- Program tatap muka diadakan di beberapa tempat pada waktu yang telah ditentukan. Informasi pendidikan tetap disampaikan, dengan/tanpa interaksi dari pembelajar.
- Program tidak terikat pada jadwal pertemuan, di satu tempat. Pembelajaran jarak jauh didasarkan pada dasar pemikiran bahwa pembelajar adalah pusat proses pembelajaran, bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri, dan berusaha sendiri di tempat mereka sendiri.
- Pembelajaran jarak jauh dengan e-learning, yaitu pembelajaran online berbasis teknologi informasi via internet Sistem pembelajaran ini dapat dilengkapi dengan modul atau buku-buku pelengkap.
- Pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi yang diatur dalam KEPMEN 107/U/2001. harus mendapat ijin dari Dikti Dalam pasal 2 disebutkan, Tujuan penyelenggaraan program pendidikan tinggi jarak jauh adalah terwujudnya tujuan pendidikan tinggi serta terciptanya kesempatan mengikuti pendidikan tinggi.
E-learning merupakan metode pembelajaran yang
berfungsi sebagai pelengkap metode pembelajaran konvensional dan memberikan
lebih banyak pengalaman afektif bagi pelajar. Singkatnya, e-learning
menggunakan teknologi untuk mendukung proses belajar. Inti dari e-learning
ialah metode dimana peserta didik diposisikan sebagai prioritas utama dengan
meletakan semua sumber bahan ajar di genggamannya. Peserta didik akan dapat
mengatur durasi mata kuliah dalam mempelajarinya dan akan mampu menyerap serta
mengembangkan pengetahuan dan keahlian dalam sebuah lingkungan yang telah
dibentuk khusus bagi dirinya. Menurut Koran, J.K.C. (2002), e-learning sebagai
sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik
(LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau
bimbingan.
Fungsi
e-learning
Menurut Siahaan (2004), setidaknya
ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di
dalam kelas:
1. Suplemen
(tambahan)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen apabila peserta
didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran
elektronik atau tidak. Dalam hal ini tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta
didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya
opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan
pengetahuan atau wawasan
2. Komplemen
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen apabila materi
pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang
diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi
pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pengayaan atau
remedial. Dikatakan sebagai pengayaan (enrichment), apabila kepada peserta
didik yang dapat dengan cepat menguasai/ memahami materi pelajaran yang
disampaikan pada saat tatap muka diberi kesempatan untuk mengakses materi
pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka.
Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan terhadap materi pelajaran
yang telah diterima di kelas. Dikatakan sebagai program remedial, apabila
peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran pada saat
tatap muka diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran
elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar
peserta didik semakin mudah memahami materi pelajaran yang disajikan di kelas.
3. Substitusi
(Pengganti)
Dikatakan
sebagai substitusi apabila e-learning dilakukan sebagai pengganti kegiatan
belajar, misalnya dengan menggunakan model- model kegiatan pembelajaran.
Sumber
:

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh....
ReplyDeleteTerima kasih atas ulasan yang Saudara Yami Noverdika tuliskan di atas mengenai STUDI KASUS LATAR BELAKANG PERLU PEMBELAJARAN JARAK JAUH UNTUK MENUNJANG TUNTUTAN DUNIA KERJA.
Mohon izin menanggapi...
Bahwa dalam konteks dunia kerja yang nyata/riil belum dijabarkan melalui ilustrasi contoh pada dunia kerja yang seperti apa dan di lembaga mana??
Secara umum yang dituliskan di atas mengenai e-learning sebagai bagian inovasi pembelajaran. Tidak ada yang salah pada deskripsi di atas, hanya saja identifikasi masalah dengan melakukan triangulasi (metode, sumber dan waktu) sebagai bagian dari studi kasus latar belakang pemanfaatan PJJ sebagai bagian dari inovasi pembelajaran belum dapat ditangkap oleh pembaca secara eksplisit.
Demikian tanggapan saya dan mohon maaf jika kurang berkenan.
Terima kasih.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh....
ReplyDeleteMohon izin untuk menanggapi..
Tulisan diatas sangat baik dan membuka wacana pembaca tentang pemanfaatan e-learning,
Akan tetapi belum tertulis secara rinci bagaimana aplikasi dalam e-learning dunia kerja?
instansi mana yang menerapkan program tersebut?
Pada saat sekarang banyak sekali sekali pemanfaatan e-learning pada dunia kerja, baik instansi pemerintah maupun swasta sudah sangat aplikatif dalam memanfaatkan e-learning. Contoh dalam dunia pendidikan pemerintah sudah memiliki e-book, e-library dan lain-lain.
tinggal kita sebagai individu, atau guru sebagai pendidik, apakah mampu untuk mengarahkan peserta didik untuk mengoptimalkan dalam memanfaatkan sumberdaya berbasis IT (ICT) tersebut..
Demikian komentar dari saya.. salam berbagi!!!
Post a Comment