Latar Belakang
Dalam dua dasawarsa terakhir ini, Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) mengalami perkembangan yang amat pesat dan
secara fundamental telah membawa perubahan yang signifikan dalam percepatan dan
inovasi penyelenggaraan pendidikan di berbagai negara. Bahkan terdapat
tuntutan TIK yang sangat besar terhadap sistem pendidikan secara global
karena: (i) teknologi yang berkembang menyediakan kesempatan yang sangat besar
untuk mengembangkan manajemen pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah,
(ii) hasil belajar siswa yang spesifik dapat diidentifikasi dengan pemanfaatan
teknologi baru tersebut, dan (iii) TIK memiliki potensi yang sangat besar untuk
mentransformasikan seluruh aspek pendidikan di sekolah dan memanfaatkannya
untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Sejumlah negara telah mengintegrasikan TIK dalam
perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan nasionalnya. Singapura, misalnya,
telah menerapkan teknologi informasi interaktif pada sistem persekolahan dengan
rasio satu komputer dua siswa. Sistem jaringan dibangun untuk menghubungkan
pendidikan, dunia internasional, dunia industri berteknologi tinggi, dan dunia
kerja. Ringkasnya, beberapa negara telah mengubah kultur pembelajaran dengan
mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kegiatan belajar dan bekerja di
sekolah.
Peralihan kultur seperti di atas hanya bisa tercapai
bila komunitas pendidikan memiliki komitmen yang kuat untuk memanfaatkan TIK.
Kelompok komunitas tersebut adalah para praktisi pendidikan baik yang berkaitan
dengan manajemen maupun proses belajar mengajar pada semua tingkatan dan unit
pendidikan, yang terdiri atas guru, kepala sekolah, pengawas, staf administrasi,
dan pejabat dalam lingkungan pendidikan. Yang tak kalah pentingnya adalah
para subjek pendidikan dari semua jenjang yang terdiri atas siswa dan
mahasiswa. Dalam konteks ini, pemanfaatan TIK harus direalisasikan untuk (a)
pengelolaan pendidikan melalui otomasi sistem informasi manajemen dan akademik
berbasis TIK, dan (b) sistem pengelolaan pembelajaran baik sebagai materi
kurikulum, suplemen dan pengayaan maupun sebagai media dalam proses
pembelajaran yang interaktif serta sumber-sumber belajar mandiri yang inovatif
dan menarik. Dengan kata lain, pendayagunaan TIK dalam manajemen pendidikan dan
proses pembelajaran bertujuan untuk menfasilitasi penyelenggara dan peserta
pendidikan guna mendorong peningkatan kualitas pendidikan.
Komitmen tersebut perlu dipertahankan untuk menjaga
kesinambungan pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan. Rekdale (2001)
mengemukakan bahwa pada program di masa lalu untuk menyediakan teknologi ke
sekolah kebanyakan mencapai sedikit sukses dalam jangka waktu yang cukup lama
dan jarang sekali menunjukkan perkembangan. Persyaratan mengenai laboratorium
bahasa adalah contoh yang umum. Biasanya ada enam masalah utama, yaitu ; (i)
Anggaran untuk perawatan fasilitas awal tidak tersedia; (ii) Pelatihan biasanya
terlalu spesifik dan tidak berhubungan dengan kebutuhan di lapangan atau
perubahan sikap, (iii) Tidak tersedianya karyawan untuk perawatan rutin dan
pengembangannya, (iv) Tidak tersedianya teknisi ahli atau terlalu mahal, (v)
Materi yang sesuai untuk mengajar tidak tersedia, dan (vi) Lemahnya kondisi
kerja guru di lapangan mendorong bahwa mereka tidak dapat membagi waktu untuk
mengembangkan materi mengajar secara kreatif. Di sisi lain, sejumlah hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran memiliki dampak
positif terhadap performansi dan prestasi belajar siswa (Graus, 1999;
Stepp-Greany, 2000; Stepp-Greany, 2002; and Choi and Nesi, 1999).
Hal di atas menunjukkan bahwa pemanfaatan TIK di
bidang pendidikan perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak
terkait, termasuk mengatasi masalah-masalah yang sering terjadi. Berdasarkan
Rencana Strategis (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional tahun 2014-201.9,
untuk dapat memberikan pelayanan prima, salah satu yang perlu dilakukan adalah
pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang dilakukan melalui
pendayagunaan ICT di bidang pendidikan.Hal ini mencakup peran ICT sebagai
substansi pendidikan, alat bantu pembelajaran, fasilitas pendidikan, standar
kompetensi, penunjang administrasi pendidikan, alat bantu manajemen satuan
pendidikan, dan infrastruktur pendidikan.
Pembahasan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup
dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi
Informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai
alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi komunikasi
mencakup segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses
dan mentrasfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Karena itu, penguasaan
TIK berarti kemampuan memahami dan menggunakan alat TIK secara umum termasuk
komputer (Computer literate) dan memahami informasi (Information literate).
Tinio mendefenisikan TIK sebagai seperangkat alat yang digunakan untuk
berkomunikasi dan menciptakan, mendiseminasikan, menyimpan, dan mengelola
informasi. Teknologi yang dimaksud termasuk komputer, internet, teknologi
penyiaran (radio dan televisi), dan telepon. UNESCO (2004) mendefenisikan bahwa
TIK adalah teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi dan menciptakan,
mengelola dan mendistribusikan informasi. Defenisi umum TIK adalah computer,
internet, telepon, televise, radio, dan peralatan audiovisual.
Sejarah pemanfaatan TIK dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan perangkat keras TIK, khususnya komputer. Teemu Leinonen (2005) membagi perkembangan tersebut kedalam 5 fase sebagai berikut:
Sejarah pemanfaatan TIK dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan perangkat keras TIK, khususnya komputer. Teemu Leinonen (2005) membagi perkembangan tersebut kedalam 5 fase sebagai berikut:
Fase pertama (akhir 1970an – awal
1980an) adalah fase
programming, drill and practice. Fase ini ditandai dengan penggunaan perangkat
lunak komputer yang menyajikan latiha-latihan praktis dan singkat, khususnya
untuk mata pelajaran matematika dan bahasa. Latihan-latihan ini hanya dapat menstimulasi
memori jangka pendek.
Fase kedua (akhir 1980an – awal
1990an) adalah fase computer
based training (CBT) with multimedia (latihan berbasis komputer dengan
multimedia). Fase ini adalah era keemasan CD-ROM dan komputer multimedia.
Penggunaan CD-ROM dan komputer multimedia ini diharapkan memberikan dampak
signifikan terhadap proses pembelajaran, karena kemampuannya menyajikan
kombinasi teks, gambar, animasi, dan video. Konsep pedagogis yang mendasari
kombinasi kemampuan ini adalah bahwa manusia memiliki perbedaan. Sebagian besar
siswa belajar dengan baik kalau mempergunakan indra penglihatan, seperti
menonton filem/animasi, sebagian lainnya mungkin lebih baik kalau mendengarkan
atau membaca.
Fase ketiga (awal 1990an) adalah fase Internet-based training (IBT) (latihan
berbasis internet. Pada fase ini, internet digunakan sebagai media pembelajaran.
Hanya saja, pada saat itu, masih terbatas pada penyajian teks dan gambar.
Penggunaan animasi, video dan audio masih sebatas ujicoba, sehingga dirasakan
pemanfaatannya belum maksimal untuk dapat menfasilitasi pembelajaran.
Fase keempat (akhir 1990an – awal
2000an) adalah fase e-learning
yang merupakan fase kematangan pembelajaran berbasis internet. Sejak itu situs
web yang menawarkan e-learning semakin bertambah, baik berupa tawaran kursus
dalam bentuk e-learning maupun paket LMS (learning management system). Bahkan
saat ini sudah cukup banyak paket seperti itu ditawarkan secara gratis dalam
bentuk open source. Konsep pedagogik yang mendasari adalah bahwa pembelajaran
membutuhkan interaksi sosial antara siswa dan siswa dan antara siswa dan guru. Dengan
perangkat lunak LMS, siswa dapat bertanya kepada temannya atau kepada guru
apabila dia tidak memahami materi yang telah dibacanya.
Fase kelima (akhir 2000) adalah fase social software + free and open
content. Fase ini ditandai dengan banyaknya bermunculan perangkat lunak
pembelajaran dan konten pembelajaran gratis yang mudah diakses baik oleh guru
maupun siswa, yang selanjutnya dapat diedit dan dimanipulasi sesuai dengan
kebutuhan. Konsep pedagogik yang mendasari fase ini adalah teori kontstruktivis
sosial. Dalam konteks ini, pembelajaran melalui komputer terjadi tidak hanya
menerima materi dari internet saja misalnya, tapi dimungkinkan dengan membagi
gagasan dan pendapat.
Peranan TIK dalam pendidikan yang diuaraikan di atas
mengisyaratkan bahwa pengembangan TIK untuk mendukung peningkatan mutu
pendidikan di Indonesia adalah sesuatu yang mutlak. Dalam Renstra Departemen
Pendidikan Nasional tahun 2014-2019, program pengembangan TIK bidang pendidikan
akan dilaksanakan melalui tahap-tahap sebagai berikut.
1. Tahap pertama meliputi (a) merancang sistem jaringan
yang mencakup jaringan internet, yang menghubungkan sekolah-sekolah dengan
pusat data dan aplikasi, serta jaringan internet sebagai sarana dan media
komunikasi dan informasi di sekolah, (b) merancang dan membuat aplikasi
database, (c) merancang dan membuat aplikasi manajemen untuk pengelolaan
pendidikan di pusat, daerah, dan sekolah, dan (d) merancang dan membuat
aplikasi pembelajaran berbasis web, multimedia, dan interaktif.
2. Tahap kedua meliputi (a) melakukan implementasi
sistem pada sekolah-sekolah di Indonesia yang meliputi pengadaan
sarana/prasarana TIK dan pelatihan tenaga pelaksana dan guru dan (b) merancang
dan membuat aplikasi pembelajaran.
3. Tahap ketiga dan keempat adalah tahap memperluas
implementasi sistem di sekolah-sekolah.
Uraian di atas lebih berfokus pada
tahapan-tahapan yang diharapakan dilakukan Depdiknas dalam kurung waktu tahun
2005-2009 dalam rangka pengembangan TIK dalam pendidikan. Dalam merealisasikan
rencana ini, Depdiknas membangun ICT Center Kabupaten/Kota melalui Program
Jardiknas yang terdiri atas jaringan komputer, internet, dan TV Edukasi. Selain
itu, guru perlu juga diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan yang
cukup untuk menggunakan perangkat TIK. Untuk itu, manajemen sekolah perlu
mengetahui kesiapan dan pelatihan TIK yang dibutuhkan guru.
Penelitian tentang pengembangan TIK
di negara-negara maju dan sedang berkembang menunjukkan bahwa
sekurang-kurangnya ada empat pendekatan mengenai pemanfaatan TIK oleh sistem
pendidikan dan sekolah. Keempat pendekatan ini merupakan tahapan kontinum, yang
oleh UNESCO diistilahkan dengan pendekatan emerging, applying, infusing, dan
transforming.
Pendekatan Emerging dicirikan
dengan pemanfaatan TIK oleh sekolah pada tahap permulaan. Pada pendekatan ini,
sekolah baru memulai membeli atau membiayai infrastruktur TIK, baik berupa
perangkat keras maupun perangkat lunak. Kemampuan TIK guru-guru dan staf
administrasi sekolah masih berada pada tahap memulai eksplorasi penggunaan TIK
untuk tujuan manajemen dan menambahkan TIK pada kurikulum. Pada tahap ini
sekolah masih menerapkan sistem pembelajaran konvensional, akan tetapi sudah
ada kepedulian tentang bagaimana pentingnya penggunaan TIK tersebut dalam
konteks pendidikan.
Pendekatan Applying dicirikan
dengan sudah adanya pemahaman tentang kontribusi dan upaya menerapkan TIK dalam
konteks manajemen sekolah dan pembelajaran. Para tenaga pendidik dan
kependidikan telah menggunakan TIK untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan manajemen
sekolah dan tugas-tugas berdasarkan kurikulum. Sekolah juga sudah mencoba
mengadaptasi kurikulum agar dapat lebih banyak menggunakan TIK dalam berbagai
mata pelajaran dengan piranti lunak yang tertentu.
Pendekatan Infusing menuntut adanya
upaya untuk mengintegrasikan dan memasukkan TIK ke dalam kurikulum. Pada
pendekatan ini, sekolah telah menerapkan teknologi berbasis komputer di
laboratorium, kelas, dan bagian administrasi. Guru berada pada tahap
mengeksplorasi cara atau metode baru di mana TIK mengubah produktivitas dan
pekerjaan profesional mereka.
Pendekatan Transforming dicirikan
dengan adanya upaya sekolah untuk merencanakan dan memperbaharui organisasinya
dengan cara yang lebih kreatif. TIK menjadi bagian integral dengan kegiatan
pribadi dan kegiatan profesional sehari-hari. Fokus kurikulum mengacu pada
learner-centered (berpusat pada peserta didik) dan mengintegrasikan mata
pelajaran dengan dunia nyata. TIK diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri
dengan level profesional dan disesuaikan dengan bidang-bidang pekerjaan.
Sekolah sudah menjadi pusat pembelajaran untuk para komunitasnya.
Dalam konteks belajar mengajar dan kaitannya dengan keempat pendekatan yang disebutkan sebelumnya, terdapat pula 4 tahap yang berkaitan dengan bagaimana guru dan peserta didik mempelajari dan menemukan percaya diri mereka dalam menggunakan TIK. Keempat tahap tersebut adalah menemukan/mengenali (discovering), belajar bagaimana (learning how), mengerti bagaimana dan kapan (understanding how and when), dan menjadi ahli (specializing) dalam penggunaan perangkat TIK.
Dalam konteks belajar mengajar dan kaitannya dengan keempat pendekatan yang disebutkan sebelumnya, terdapat pula 4 tahap yang berkaitan dengan bagaimana guru dan peserta didik mempelajari dan menemukan percaya diri mereka dalam menggunakan TIK. Keempat tahap tersebut adalah menemukan/mengenali (discovering), belajar bagaimana (learning how), mengerti bagaimana dan kapan (understanding how and when), dan menjadi ahli (specializing) dalam penggunaan perangkat TIK.
Pada tahap pertama, guru dan siswa
baru mencoba menemu-kenali fungsi dan kegunaan perangkat TIK. Tahap ini
berkaitan dengan tahap emerging, yang menekankan pada kemelekan TIK (ICT
literacy) dan keterampilan dasar, Tahap selanjutnya, belajar bagaimana
menggunakan perangkat TIK, menekankan pada bagaimana memanfaatkan
perangkat-perangkat TIK tersebut dalam berbagai disiplin. Tahap ini meliputi
penggunaan aplikasi umum dan khusus TIK, dan berkaitan dengan tahap applying.
Tahap ketiga mengacu pada pemahaman bagaimana dan kapan menggunakan perangkat
TIK untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menyelesaikan tugas-tugas tertentu.
Ini menekankan pada kemampuan membaca situasi kapan TIK dapat membantu, memilih
perangkat yang sesuai untuk tugas tertentu, dan menggunakan perangkat ini untuk
memecahkan masalah yang sebenarnya. Tahap ini berkaitan dengan pendekatan
infusing dan transforming dalam hal pengembangan TIK. Tahap keempat mengacu
pada bagaimana menjadi ahli dalam penggunaan perangkat TIK. Pada tahap ini,
siswa mempelajari TIK sebagai mata pelajaran yang membawa mereka untuk menjadi
ahli. Hal ini lebih mengarah kepada pendidikan kejuruan atau profesional dan berbeda
dengan tahap sebelumnya.
Dalam konteks kemampuan menggunakan
TIK di masyarakat, UNESCO (2004) mengemukakan beberapa alasan untuk
mengembangkan penggunaan TIK dalam sistem pendidikan, yaitu (i) untuk
mengembangkan atribut pengetahuan-masyarakat bagi siswa, termasuk pengembangan
keterampilan berfikir tingkat tinggi, kebiasaan belajar sepanjang hayat, dan
kemampuan berfikir secara kritis, mengkomunikasikan dan mengkolaborasikan,
mengakses, mengevaluasi dan mensintesis informasi, (ii) untuk mengembangkan
keterampilan dan kompetensi TIK pada diri siswa, sebagai bekal yang dapat
digunakan untuk memanfaatkan TIK dalam duania kerja dan masyarakat, (iii) untuk
mengatasi masalah dalam dunia pendidikan, antara lain termasuk penggunaan TIK
untuk meningkatkan efesiensi kegiatan administrasi dan pengajaran, mengatasi keterbatasan
sumber bahan dalam bidang tertentu (misalnya kekurangan buku teks atau sumber
belajar), mengatasi isu pemerataan melalui perluasan akses terhadap
pengetahuan, sumber dan keahlian, atau bahkan membantu guru-guru yang mungkin
kurang diperlengkapi dengan sumber belajar yang cukup.

Assalamulaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...
ReplyDeleteSebelum mengkritisi konten materi, perkenankan untuk mengkritisi desain layout artikel yang Saudara tuliskan.
Sebenarnya ulasan penulis sangat bagus, namun kami selaku pembaca merasa sedikit membosankan karena penulisan pembahasan yang begitu rapat dan tidak terlihat poin-poin yang menjadi pemisah diantara sub bahasannya. Bahkan penambahan sedikit gambar ataupun ilustrasi pun tidak terlihat.
Secara umum, ulasan yang dituliskan tidak ada yang salah, hanya sedikit menambahkan bahwa dalam kaitannya TIK atau ICT yang bisa merubah paradigma pembelajaran masa kini dan atau bahkan bisa menjadi sebuah inovasi baru dalam dunia pendidikan maupun pembelajaran, maka terdapat 4 kualitas ICT (Eberhard):
1. Kualitas multimedia, kecerdasan majemuk
2. Interaktif
3. Hypermedia
4. Ubiquity (tersedia di mana saja)
Demikian tanggapan yang bisa diberikan dan mohon maaf jika terdapat hal yang keliru dan kurang berkenan.
Terima kasih. Sehat, Semangat, Luar Biasa
Post a Comment