PRINSIP DASAR PEMBELAJARAN JARAK JAUH UNTUK MENUNJANG KEBUTUHAN DUNIA KERJA


Kemampuan untuk menguasai teknologi informasi dan komunikasi adalah kriteria yang biasa diminta masyarakat untuk memasuki era globalisasi baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Maka dengan adanya TIK yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia hal itu membutuhkan tanggung jawab sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan kemampuan TIK. Dengan adanya TIK untuk pembelajaran jarak jauh memungkinkan peserta didik belajar kapan pun dan dimana pun, hal ini memungkinkan mereka untuk menyesuaikan pendidikan dan pelatihannnya dengan tanggung jawab dan komitmen-komitmen lainnya.
Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang berlandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
Pembelajaran jarak jauh seperti yang sering kita dengar merupakan  pembelajaran yang mengutamakan kemandirian. Guru dapat menyampaikan materi ajar kepada peserta didik tanpa harus bertatap muka langsung di dalam suatu ruangan yang sama. Pembelajaran semacam ini dapat dilakukan dalam waktu yang sama maupun dalam waktu yang berbeda.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pendapat dari Hamzah B.Uno dalam bukunya yang berjudul Model Pembelajaran yang menyatakan bahwa pembelajaran jarak jauh adalah sekumpulan metode pengajaran di mana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Pemisah kedua kegiatan tersebut dapat berupa jarak fisik maupun nonfisik (2007:34). Jarak fisik dalam artian lokasi, dan jarak nonfisik yakni kondisi. Melalui PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) pula  dimungkinkan antara pengajar dan pembelajar berbeda tempat bahkan bisa dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh.

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pembelajaran jarak jauh, yaitu sebagai berikut :
  1. Tujuan yang jelas. Perumusan tujuan harus jelas, spesifik, teramati, dan terukur untuk mengubah perilaku peserta didik.
  2. Relevan dengan kebutuhan. Program belajar jarak jauh harus relevan dengan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dunia kerja, atau lembaga pendidikan.
  3. Mutu pendidikan. Pengembangan program belajar jarak jauh upaya meningkatkan mutu pendidikan yaitu proses pembelajaran yang ditandai dengan pembelajaran lebih aktif atau mutu lulusan yang lebih produktif.
  4. Efisiensi dan efektivitas program. Efisiensi mencakup penghematan dalam penggunaan biaya, tenaga, sumber dan waktu, sedapat mungkin menggunakan hal-hal yang tersedia. Prinsip Efisiensi. Prinsip ini diwujudkan dengan pendayagunaan berbagai macam sumber daya dan teknologi yang tersedia seoptimal mungkin. Pemberdayaan segala sumber disekeliling pebelajar akan membantu pebelajar untuk dapat menggunakan sumber tersebut sebanyak mungkin, sehingga pebelajar tidak merasa kerepotan mengenai sumber belajarnya. (Miarso, 2004:305)
  5. Efektivitas. Memperhatikan hasil-hasil yang dicapai oleh lulusan, dampaknya terhadap program dan terhadap masyarakat.
  6. Pemerataan. Hal ini berkaitan dengan pemerataan dan perluasan kesempatan belajar, khususnya bagi yang tidak sempat mengikuti pendidikan formal karena lokasinya jauh atau sibuk bekerja.
  7. Kemandirian. Kemandirian baik dalam pengelolaan, pembiayaan, maupun dalam kegiatan belajar. Prinsip Kemandirian. Prinsip ini diwujudkan dengan adanya kurikulum yang memungkinkan dapat dipelajari secara independent learning, pebelajar dihadapkan pada pilihan yang terbaik bagi dirinya sendiri, dari mulai pembentukan kelompok belajar, program pendidikan yang digunakan, pola belajar yang disukai, mengunakan sumber belajar yang tepat sesuai dengan kebutuhan. 
  8. Keterpaduan. Keterpaduan, yang dimaksud adalah keterpaduan berbagai aspek seperti keterpaduan mata pelajaran secara multi disipliner.
  9. Kesinambungan. Penyelenggaraan belajar jarak jauh tidak insidental dan sementara, tetapi dikembangkan secara berlanjut dan terus menerus.
  10. Prinsip Keluwesan. Prinsip ini diwujudkan dengan dimungkinkannya peserta didik untuk memulai, mencari sumber belajar, mengatur jadwal dan kegiatan belajar, mengikuti ujian dan mengakhiri pendidikannya di luar ketentuan waktu dan tahun ajaran. Dikatakan luwes, pebelajar dimungkinkan untuk berpindah dari pendidikan formal ke pendidikan non-formal atau sebaliknya dari pendidikan non-formal ke pendidikan formal.
  11. Prinsip Keterkinian. Prinsip ini diwujudkan dengan tersedianya program pembelajaran yang pada saat ini diperlukan (just-in-time). Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan dan pelatihan konvensional yang program atau kurikulumnya termasuk buku-buku yang tersedia, dirancang untuk mengantisipasi keperluan masa mendatang (just-in-case). Kecepatan untuk memperoleh informasi yang baru merupakan suatu peluang untuk dapat bertahan dan berkembang dalam persaingan bebas.
  12. Prinsip Kesesuaian. Prinsip ini terwujud dengan tersedianya sumber belajar yang terkait langsung dengan kebutuhan pribadi maupun tuntutan lapangan kerja atau kemajuan masyarakat. Sumber belajar tersebut bobotnya harus setara dengan kompetensi yang diperlukan, tetapi disajikan dalam bentuk yang sederhana yang dapat dipelajari sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Prinsip ini disesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakang pebelajar.
  13. Prinsip Mobilitas. Prinsip ini diwujudkan dengan adanya kesempatan bagi pebelajar untuk berpindah lokasi, jenis, jalur dan jenjang pendidikan yang setara setelah memenuhi kompetensi yang diperlukan.
Sistem pendidikan jarak jauh adalah suatu keseluruhan proses pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakandalam bentuk pengajaran modular dalam satuan waktu tertentu dengan bimbingan dan pembinaan oleh tenaga profesional yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kemampuan ketenagaan dalam bidang tertentu (Hamalik, 1994:48).
Sebagaimana komponen dari sistem pendidikan nasional, sistem pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Penyelenggaraan sistem pendidikan tersebut perlu mendapatkan pengaturan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan luar sekolah, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, dan pendidikan berkelanjutan (Miarso, 2004:321).
Dalam rangka menunjang kebutuhan dunia kerja maka pendidikan kedinasan merupakan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai atau calon pegawai suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Contoh penerapannya adalah dengan diselenggarakannya kegiatan-kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi calon atau para pegawai.
Beberapa impelementasi pembelajaran jarak jauh dalam institusi pemerintah seperti Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), diantaranya yaitu:
1.      Pengelolaan Pengembangan Kapasitas Tenaga Program Kependudukan dan Keluarga Berencana di Kabupaten dan Kota melalui E-Learning;
2.      Orientasi jarak jauh melalui media video conference bagi widyaiswara;
3.      E-learning pada Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 
Sumber :
Miarso, Yusufhadi, dkk. 1990. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.
Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Smith, Mark K. 2009. Teori Pembelajaran dan Pengajaran. Yogyakarta: Mirea.

4 Comments

  1. pembahasan materi yang bagus dan mudah untuk dimengerti, sedikit ingin berdiskusi dengan penulis, perihal tentang prinsip kesesuaian... bagaimana kita mengetahui bahwa metode pjj ini sesuai untuk di suatu daerah tertentu dengan keterbatasannya.

    ReplyDelete
  2. Assalamulaikum warohmatullahi wabarokatuh...

    Sedikit mengherankan dengan artikel di atas karena ketika saya membaca pada ulasan pembahasan yang terakhir kenapa sama persis dengan saya tuliskan dalam blog saya?? Apakah anda setuju dengan yang saya tuliskan tapi mohon kerendahan hati untuk menambahkan pengantar bahwa contoh penerapan PJJ dalam dunia kerja tersebut penulis dapatkan darimana?

    "Dalam rangka menunjang kebutuhan dunia kerja maka pendidikan kedinasan merupakan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai atau calon pegawai suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Contoh penerapannya adalah dengan diselenggarakannya kegiatan-kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi calon atau para pegawai.
    Beberapa impelementasi pembelajaran jarak jauh dalam institusi pemerintah seperti Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), diantaranya yaitu:
    1. Pengelolaan Pengembangan Kapasitas Tenaga Program Kependudukan dan Keluarga Berencana di Kabupaten dan Kota melalui E-Learning;
    2. Orientasi jarak jauh melalui media video conference bagi widyaiswara;
    3. E-learning pada Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) "

    Mohon maaf jika penulis merasa tidak nyaman atas komentar saya di atas.

    Selanjutnya mungkin penulis dapat mengklarifikasi mengenai perbedaan font huruf yang tampil pada ulasan beberapa prinsip di atas?? adakah faktor kesengajaan???

    Dalam menuliskan prinsip maka pertama yang harus kita lakukan adalah identifikasi masalah sehingga menjadi handycap yang nantinya membutuhkan solusi lanjut. Sedangkan masalah yang sudah ada solusinya bukan menjadi sesuatu hal yang prinsip.

    Demikian untuk diketahui bersama karena semua ini merupakan proses pembelajaran.

    I'm sorry and thanks.


    ReplyDelete
  3. Assalamulaikum warohmatullahi wabarokatuh...
    salam berbagi..
    tulisan diatas sangat baik dan membuka wacana bagi siapa saja yang membacanya..
    saya ingin mengulas tentang tulisan yang menurut saya kurang adanya konsistensi dalam penggunaan jenis huruf.. mohon untuk diperbaiki.
    kemudian tentang pemanfaatan PJJ dalam dunia kerja belum dituliskan secara rinci, dunia kerja yang seperti apa yang membutuhkan pembelajaran jarak jauh??? apakah bisa saudara bisa mengambil contou instansi mana yang sudah menerapkannya?
    terimakasih.. wassalam

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum..

    Pada pembelajaran jarak jauh seperti yang sering kita dengar merupakan pembelajaran yang mengutamakan kemandirian. Guru dapat menyampaikan materi ajar kepada peserta didik tanpa harus bertatap muka langsung di dalam suatu ruangan yang sama. Pembelajaran semacam ini dapat dilakukan dalam waktu yang sama maupun dalam waktu yang berbeda. Namun, apa peran penting dari pendidik dalam PJJ tersebut menurut saudara?

    ReplyDelete

Post a Comment

Previous Post Next Post